Wednesday, May 30, 2012

Fluktuasi Perkembangan Kredit Usaha Kecil (KUK) dan Kredit Investasi Kecil (KIK) Menurut Kelompok Bank (2005-2012)

Kelompok 8:
1. Abdul Halim Utama (20210018)
2. Benjamin Eliezer Pascareno Simanjuntak (21210386)
3. Prayoga Cahayanda (25210378)


KUK dan KIK adalah pelayanan yang diterapkan atau disajikan oleh bank untuk para nasabah. KUK merupakan  Kredit atau pembiayaan dari Bank untuk investasi dan modal kerja yang diberikan dalam rupiah dan atau valuta  asing kepada nasabah usaha kecil. Sedangkan KIK adalah kredit jangka panjang yang diberikan kepada debitur untuk membiayai barang-barang dalam rangka rehabilitasi dan modernisasi serta lainnya. Pelayanan tersebut biasanya disajikan di bank - bank seperti di Indonesia ada 4 bank utama yaitu BUMN (Bank Umum Milik Negara), BUSN (Bank Umum Swasta Nasional), Joint Venture(Bank Asing) dan BPD ( Bank Pembangunan Daerah). Untuk mengetahui perkembangan KUK di masing - masing bank, dilakukan pengumpulan data - data untuk mengetahui penggunaan KUK yang lebih tinggi diantara bank-bank tersebut. Data diambil dari situs resmi BI :



Dari data di atas, dapat kita lihat bahwa tren penyaluran kredit meningkat selama periode 2005-2008 kemudian menurun di tahun 2009. Penurunan tersebut makin curam di tahun 2010 untuk kemudian naik perlahan di tahun 2011 dan 2012.
Hal tersebut dikarenakan pertumbuhan kredit unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) meningkat 30 persen. Kredit mass market yang mencapai 44 persen dari total kredit, meningkat 34 persen year-on-year sejalan dengan pertumbuhan yang pesat dalam penyaluran kredit kepada segmen mikro.
Selain itu, terbitnya UU No. 20 Tahun 2008 Tentang UMKM turut mendorong penyaluran kredit kepada sektor UKM.
Hal yang patut diteliti lainnya adalah apakah ada keterkaitan antara tingginya penyaluran kredit kepada UKM di tahun 2008 dengan masa pemilu 2009 yang menjelang. Apakah tingginya penyaluran kredit kepada UKM tersebut merupakan strategi pencitraan merebut hati rakyat oleh pemerintah saat itu? Perlu diadakan penelitian lebih lanjut.
Sedangkan yang menyebabkan turunnya penyaluran kredit kepada sektor mikro di tahun 2009 adalah karena dampak buruk krisis global dinilai mempengaruhi perkembangan kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Selama dua tahun terakhir, penyaluran kredit UMKM tumbuh lebih rendah dari kredit non UMKM. Selama dua tahun terakhir, penyaluran kredit UMKM perbankan tumbuh lebih rendah dari kredit non UMKM, sehingga pangsanya atas total kredit perbankan cenderung menurun.
Pangsa kredit UMKM pada akhir tahun 2008 adalah 49,5% dari total kredit perbankan, turun dari 51,2% (2007) dan 51,85% (2006). Trends tersebut sejauh ini tidak berubah dengan adanya krisis keuangan global jika dampaknya dianggap mulai terjadi pada triwulan III-2008.

Tren yang dapat kita lihat lagi adalah selama tahun 2005-2009 Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) memimpin dalam jumlah penyaluran KUK/KIK. Namun semenjak tahun 2010 dan seterusnya, Bank BUMN yang memimpin dalam jumlah penyaluran KUK/KIK.
BUMN memimpin dalam penyaluran kredit mikro karena Bank Indonesia (BI) tidak menciptakan iklim usaha perbankan yang sehat dan kian membiarkan bank-bank BUMN merebut ranah kredit Mikro.
BI sebagai bank sentral tidak memberikan iklim persaingan usaha yang sehat antar jenis-jenis bank dan cenderung menjadi simpang siur pada batasan wilayahnya masing-masing. Terutama dengan membiarkan bank-bank BUMN masuk ke ranah kredit mikro yang semakin menggerus kinerja bank-bank lainnya, termasuk BPR.
Berdasarkan data Perbarindo, total penyaluran kredit mikro pada semester I-2009 sebesar Rp 251,854 triliun, tumbuh 4,24% dari periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp 241,596 triliun.
Rinciannya, bank BUMN menyalurkan kredit mikro sebesar Rp 109,713 triliun, naik 10,28% dari periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp 99,483 triliun. BPD menyalurkan kredit mikro sebesar Rp 39,153 triliun, naik tipis 0,34% dari periode yang sama di 2008 sebesar Rp 39,019 triliun.
Bank swasta nasional mengucurkan kredit mikro sebesar Rp 64,784 triliun, turun 0,95% dari sebelumnya Rp 65,411 triliun. Bank asing dan campuran menyalurkan kredit mikro sebesar Rp 11,816 triliunn, turun 3,2% dari semester I-2008 sebesar Rp 12,211 triliun.
Penyaluran kredit mikro BPR sebesar Rp 26,388 triliun, naik 3,5% dari sebelumnya Rp 25,472 triliun.
Selain itu, faktor lainnya adalah dibentuknya PNM Ulam (unit layanan masyarakat) oleh bank-bank BUMN yang fokus mengucurkan kredit mikro. Keberadaan PNM Ulam secara frontal telah menciptakan persaingan head to head dengan BPR.
Ini bisa terjadi karena BI tidak mengatur secara lebih rapi mengenai pembagian wilayah masing-masing, akhirya terjadi perebutan wilayah dan cenderung menciptakan iklim yang tidak sehat.
 
Sumber: