Thursday, January 26, 2012

Analisis Jurnal Efisiensi Pemasaran Jeruk di Kalimantan Selatan

Judul              : Analisis Efisiensi Pemasaran Jeruk
Pengarang    : Lina Suherty, Zaenal Fanani,  dan A.Wahib Muhaimin
Tahun            : 2009
Tema              : Tingkat efisiensi dalam suatu sistem pemasaran jeruk  

Latar Belakang

Fenomena
         Di Indonesia jeruk adalah komoditas buah-buahan terpenting ketiga, dilihat dari luas pertanaman dan jmlah produksi per tahun. Menurut Biro Pusat Statistik, produksi jeruk Indonesia pada tahun 1991 sebesar 353.011 ton. Dengan jumlah penduduk 180 juta jiwa, maka untuk mencapai sasaran tingkat konsumsi sebesar 3,26 kg per kapita per tahun diperlukan buah jeruk sebanyak 745.676 ton, dengan asumsi 30 persen buah rusak selama pasca panen. Perkembangan produk hortikultura di Kabupaten Barito Kuala Propinsi Kalimantan Selatan, menunjukkan bahwa jeruk mengalami peningkatan produksi dari 84.235,20 kwintal pada tahun 2000 menjadi 120.829 kwintal pada tahun 2001.

Motivasi Penelitian 
          Sektor pertanian mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian  masyarakat, baik dalam keadaan normal maupun krisis ekonomi. Dalam keadaan krisis ekonomi, sektor pertanian dengan local content yang relatif tinggi dapat menjadi katup penyelamat ekonomi masyarakat. Tanaman jeruk yang dikembangkan di Barito Kuala, Kalsel ini memiliki potensi yang cukup besar mengingat iklim yang sesuai untuk komoditi tersebut.  Besarnya jumlah produksi dan konsumsi belum mencerminkan sistem pemasaran yang efisien. Sehubungan dengan hal tersebut dalam usaha untuk meningkatkan pendapatan petani, perlu diimbangi dengan sistem pemasaran yang menguntungkan petani. maka penelitian tentang efisiensi pemasaran jeruk perlu untuk dilakukan.

Metodologi

Sumber Data
       Penelitian menggunakan data primer dan dilaksanakan di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang, Kabupaten Barito Kuala. Objek penelitian meliputi Petani, Pedagang pengumpul kecamatan, Pedagang pengumpul kabupaten, Pedagang pengumpul propinsi, Pedagang pengecer local, dan Pedagang pengecer luar daerah.

Model Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Metode Analisis.

 Hasil dan Analisis

            Melihat jumlah penjual dan pembeli yang tidak sebanding, maka pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Belawang dapat dikatakan tidak efisien, karena beberapa tingkat pasar ini hampir semuanya mengarah pada pasar oligopsoni, hanya satu tingkat pasar pada pasar luar daerah yang struktur pasarnya mengarah pada pasar monopsoni. Kondisi kekurangan modal menghambat kinerja petani dan juga lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam pemasaran jeruk. Dilihat dari koefisien determinasi (R2), respon harga jeruk di tingkat petani produsen karena perubahan harga di tingkat konsumen luar daerah adalah sebesar 0,307, berarti 30,7 persen variasi harga di tingkat petani produsen dipengaruhi oleh variasi harga di tingkat konsumen luar daerah, sedangkan 69,3 persen dipengaruhi oleh faktor lain selain  harga di tingkat konsumen luar daerah seperti pendapatan konsumen luar daerah, selera, harga buah substitusi lain, biaya transportasi dan jarak antara produsen dan konsumen. Untuk hasil-hasil pertanian umumnya h < 1 artinya apabila terjadi perubahan harga 1 persen di tingkat konsumen, maka akan mengakibatkan perubahan harga yang kurang dari 1 persen di tingkat produsen. Pada h < 1 berarti pasar berjalan tidak efisien (tidak bersaing sempurna).                                                         
          Dengan menggunakan pendekatan S-C-P (Structure – Conduct – Performance), dapat  dinyatakan bahwa (1) struktur pasar cenderung sebagai pasar kompetisi tidak sempurna, merupakan pasar oligopsoni yang diukur  oleh rasio konsentrasi, dan elastisitas harga kurang dari satu, (2) keputusan harga tergantung pada pedagang antara yang membeli jeruk  secara langsung dan  juga kerjasama di antara pedagang,  dan masih ada tingkat pasar yang belum terintegrasi, (3) keragaan pasar menyatakan bahwa marjin pasar  dalam semua saluran beragam, distribusi marjin belum merata, pangsa harga petani masih rendah, keuntungan dan rasio harga juga beragam.      

Simpulan dan Rekomendasi

Simpulan
            Berdasarkan analisis struktur pasar, perilaku pasar, dan penampilan pasar dapat dikatakan bahwa sistem pemasaran jeruk di Desa Karang Dukuh Kecamatan Barito Kuala belum efisien. Padahal efisiensi pemasaran dapat meningkatkan arus barang dari produsen ke konsumen, dapat menipiskan perbedaan harga yang diterima petani sampai barang tersebut dibayar oleh konsumen akhir, juga meningkatkan kelayakan pendapatan yang diterima petani maupun lembaga pemasaran yang terlibat dalam aktivitas pemasaran. Dengan potensi yang dimiliki oleh Desa Karang Dukuh, semua pihak yang terlibat seharusnya bekerja sama untuk memperbaiki rendahnya efisiensi dalam sistem pemasaran jeruk di desa ini.

Rekomendasi
            Rekomendasi yang diberikan oleh jurnal ini sudah baik yaitu antara lain, perlu dilakukannya diferensiasi produk untuk menambah nilai jual produk yang ada atau pemendekan saluran pemasaran yang ada untuk meningkatkan share harga yang diterima oleh petani. Namun, alangkah baiknya jika semua ini dapat dikonsultasikan kepada dinas terkait dan pemda setempat untuk lebih meningkatkan efisiensi dari sistem pemasaran di Desa Karang Dukuh.
           

 Sumber :
images.soemarno.multiply.multiplycontent.com%2Fattachment%2F0%2FTBSpowooCzYAAHpRghA1%2FANALISIS%2520EFISIENSI%2520PEMASARAN%2520JERUK%2520DI%2520KALSEL.doc

Mata Kuliah : Teori Ekonomi 2
Dosen :  Prihantoro  

Utilitas

                Manusia sebagai makhluk hidup, sudah sewajarnya melakukan berbagai kegiatan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Manusia terus berusaha memenuhi kebutuhannya walaupun kita mempunyai kebutuhan yang tidak terbatas sedangkan barang pemenuhan kebutuhannya terbatas. Kepuasan atas pemenuhan kebutuhan inilah yang disebut dengan utilitas. Menurut bentuknya utilitas dapat dibagi menjadi :
1. Form Utility, yaitu daya guna dari suatu barang akan timbul karena atau setelah diadakan perobahan bentuk/pisik barang tersebut, seperti kayu menjadi kursi tempat duduk.
2. Place Utility, yaitu daya/nilai guna suatu barang timbul akibat berpindahnya barang tersebut dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih memerlukannya, seperti barang-barang tambang.
3. Time Utility, yaitu daya/nilai guna suatu barang akan lebih berguna pada suatu waktu dari pada waktu lainnya, atau setelah berlangsungnya beberapa waktu lamanya, seperti payung dikala hujan.
4. Ownership Utility, Yaitu kegunaan suatu barang timbul karena barang tersebut diberikan kepada pihak lain yang lebih membutuhkannya, seperti bank memberikan kredit pasar nasabah.
 Terdapat dua pendekatan dalam memahami utilitas yaitu : 
- Pendekatan Utilitas Kardinal (Cardinal Approach)    
Pendekatan ini menyatakan bahwa utilitas dapat diukur secara langsung melalui angka-angka. Oleh karena itu, pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan kardinal (cardinal approach). Dalam pendekatan ini, digunakan konsep Total Utility (TU) dan Marginal Utility (MU). Pendekatan ini dapat dilihat pada Hukum Gossen I dan II.
a. Hukum Gossen I
Setiap barang dan jasa merupakan alat pemuas kebutuhan manusia. Barang tersebut harus dapat memberikan kepuasan kepada manusia. Henrich Gossen, menganggap bahwa tinggi rendahnya nilai suatu barang tergantung dari subjek yang memberikan penilaian. Suatu barang baru mempunyai arti bagi seorang konsumen apabila barang tersebut mempunyai daya guna (utility), dan besar kecilnya daya guna tersebut tergantung dari konsumen yang bersangkutan, semakin banyak barang yang dikonsumsinya semakin besar daya guna total (total utility) yang diperolehnya, akan tetapi laju pertambahan daya guna (marginal utility) yang diperoleh karena mengkonsumsi satu kesatuan barang makin lama semakin rendah, bahkan jumlah pertambahannya dapat menjadi nol dan bila penambahan konsumsi diteruskan jumlahnya, pertambahan daya gunanya bahkan bisa menjadi negatif akibat pertambahan jumlah konsumsi tersebut, hal ini biasa disebut dengan hukum pertambahan daya guna menurun (the law of diminishing marginal utility) atau hukum Gossen I.
b. Hukum Gossen II
Manusia memiliki banyak kebutuhan, mulai kebutuhan yang sangat penting sampai kebutuhan yang kurang atau tidak penting. Mulai dari kebutuhan primer sampai kebutuhan yang bersifat tersier. Dalam hal ini Gossen mengemukakan lagi teorinya, yang dikenal dengan hukum Gossen II, yang menyatakan bahwa jika konsumen melakukan pemenuhan kebutuhan akan berbagai jenis barang dengan tingkat pendapatan dan harga barang tertentu, konsumen tersebut akan mencapai tingkat optimisasi konsumsinya pada saat rasio marginal utility (MU) berbanding harga sama untuk semua barang yang dikonsumsinya. Kasarnya, utilitas maksimum akan dicapai oleh jika setiap unit barang yang dikonsumsi memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang kita dibelanjakan. Jadi untuk mencapai utilitas maksimum dari berbagai barang yang dikonsumsi, seseorang harus mengatur konsumsinya sedemikan rupa sehingga setiap unit barang memberikan utilitas marjinal yang sama untuk setiap rupiah yang dibelanjakan.

- Pendekatan Utilitas Ordinal (Ordinal Approach)
Pendekatan ini menyatakan bahwa utilitas tidak dapat dihitung, melainkan hanya dapat dibandingkan. Jadi, menurut teori ini yang berlaku adalah apakah seorang konsumen lebih menyukai kombinasi barang tertentu daripada kombinasi barang lainnya. Dalam teori utilitas ordinal digunakan pendekatan kurva utilitas sama (indifference curve) dan garis anggaran (budget line).  
a. Kurva Indiferen 
Indifference Curve adalah kurva yang menunjukan berbagai kombinasi dari 2 macam barang yang memberi kepuasan yang sama kepada seorang konsumen.
Asumsi Indifference curve :
a.turun dari kiri atas ke kanan bawah, 
b.cembung ke arah origin, 
c.tidak saling memotong,        
d.yang terletak di sebelah kanan atas menunjukkan tingkat kepuasaang lebih tinggi  (tanpa perlu menunjukkan berapa lebih tinggi, yaitu asumsi ordinal utility). Contoh gambar Kurva Indiferen :



b. Garis Anggaran 
Budget Line Curve adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumsi 2 macam barang yang dapat diperoleh dengan pendapatan yang sama. Contoh gambar Budget Line Curve :
 

Sumber :
http://faizulmubarak.wordpress.com/
http://www.kangnanto.com/berita-381-perilaku-konsumen-dan-perilaku-produsen-tugas-kuliah.html